Sore hari terasa hiruk pikuk setelah
langit mendadak mendung. Seorang gadis sedang menikmati kopi.
Dan benar hujanpun turun dengan lebatnya membasahi kota. Gadis itu memandang
keluar jendela memperhatikan hujan dan melamunkan sesuatu.
Jessica,
atau yang sering dipanggil Sica adalah nama gadis yang sedang menikmati kopi
tapi ia lebih sering dipanggil Sica. Usianya masih muda sekitar 22 tahun.
Wajahnya cantik, berwajah oriental dengan mata sendu serta ramput panjang lurus
sebahu yang selalu di urai. Tubuhnya yang langsing dan warna kulitnya yang
putih menambah kecantikannya.
“Hei,
jangan melamun saja.” Tiba-tiba seorang Steven mengejutkannya hampir saja
ia memuntahkan kopi yang diminumnya.
“Ya, kau mengangetku” teriak Sica sedangkan yang diteriaki hanya senyum-senyum.
“Sedang apa kau disini?” tanya Sica dingin. “Hanya ingin melihat keadaan
sahabatku yang dingin ini” jawab Steven santai sambil mengacak-acak rambut Sica.
“Pergi sana temani pacarmu itu,” lagi-lagi Sica berkata ketus. “Kamu kenapa sih
Jessie? Lagi pms?” Sica menghiraukan pertanyaan Steven dan meninggalkan Steven
dengan pertanyaan.
“Sil
kamu tau ga Sica kenapa? Akhir-akhir ini dia sering jutek banget sama aku?”
Steven meminum air yang diberikan Silvia. “Mungkin pms? Atau banyak masalah”
jawab Silvi. “Masalah apa?” bingung Steven. “Manaku tahu coba tanyakan sendiri
padanya” Silvi menangakat pundaknya. “Ya sudahlah.” Btw Sil makasih ya” Steven
melemparkan senyum hangatnya yang membuat pipi Silvi memerah. Tanpa mereka
sadari ada sepasang mata yang memperhatikan mereka. “ Cih mesra sekali” Sica
meninggalkan tempatnya.
Ke
esokannya Sica bangun dari mimpinya melirik jam yang terletak di sampingnya.
Pukul 08.00 terlalu pagi untuknya bangun. Ia mengucek matanya dan menggerakan
tubuhnya. Perutnya berbunyi sejak tadi malam ia tidak makan. Sica berjalan
menuju dapur membuka kulkas, mengambil susu, dan menutup kulas. Dituangnya susu
ke dalam gelam dan diteguknya. Sica berjalan ke luar villa dan menemukan
pemandangan yang sangat tidak disukainya. Steven sedang mengejar-kejar Silvia
dan ditangkapnya seakan-akan Steven memeluknya. Pipi Silviapun merona setiap ia
berada di dekat stven dan Sica sangat cemburu dengan hal itu. Sica segera
meninggalkan tempanya.
Sica
merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia pusing, kepalanya selalu pusing melihat
kemesraan Silvia dan Steven. Lalu ia mengambil handuk dan masuk kedalam kamar
mandi. Mungkin dengan keramas pening dikepalanya sedikit berkurang. Setelah
mandi Sica berkeliling villa ya Sica sebenarnya belum tahu apa saja yang ada di
dalam villa milik keluarganya Steven.
Mata
Sica panas melihat isi kamar Silvia. Banyak sekali foto-foto Silvia dengan
Steven yang di dalam kamarnya. Ternyata benar selama ini Silvia dan Steven
memang ada sesuatu dan bodohnya ia baru
mengetahuinya sekarang. Sica benci sangat benci dengan kenyataan yang ia
dapatkan. Air matanya lagi-lagi terjatuh. Liburan yang ia rencanakan bersama
sahabatnya Steven sekaligus orang yang disukainya itu hancur dari awal saat ia
mengajak Steven yang berujung Steven yang juga mengajak Silvia bergabung
bersama.
Sica
berlari menuju danau yang rumayan jauh dengan villanya. Sica duduk di tepi
danau dan melempar batu-batu kecil ke danau. “Selalu Silvia, Silvia dan Silvia.
Steven kenapa harus Silvia yang kamu suka? Apa kamu ga tau aku uda suka kamu
dari dulu. Kenapa kamu ga bisa ngerti aku?” teriak Sica sekencang-kencangnya.
“Aku tahu Silvia memang lebih cantik dari ku lebih manis dariku lebih baik
dariku lebih pintar dariku tapi aku yang lebih tahu semua tentangmu bukan dia
harusnya kamu juga lebih mengerti aku bukan dia.” Teriak Sica lagi sampai air
mata keluar dari pelupuk matanya.
Silvia
memperhatikan Sica sejak keluar dari villa. Hatinya terasa tertusuk ternyata
Sica selama ini menyukai Steven dan Steven sebenarnya juga menyukai Sica hanya
saja Steven belum mengungkapkan perasaanya karna takut hubungannya dengan Sica
jadi rusak. Silvia merasa menjadi orang yang merebut kebahagiaan Sica tapi juga
tak bias diingkari bahwa Silvia menyukai Steven. “Maafkan aku Sica, aku akan
menyatukanmu dengannya,” ucap Silvia lirih.
Sica
kembali ke villa dengan mata sembab. Steven mendekatinya “Jessie kamu kenapa?”
Tanya Steven khawatir. Sica hanya membalas dengan tatapan dingin dan berjalan
ke kamarnya “Jessie apa salahku?” Steven sudah tidak tahan diperlakukan
sedingin itu oleh orang yang disukainya. Sakit hati Steven saat Jessie
menghiraukannya padahal Steven hanya ingin bersikap baik kepadanya. Silvia
tiba-tiba mendatangi Steven “Stev aku mau bilang seusatu ke kamu” Silvia
menarik tangan Steven dan Sica yang meliriknya meneteskan air mata lagi.
“Happy
birthday sayang” ucap ibu Sica dari seberang telfon. “Iya mah makasih” suara
Sica menyoba tersenyum. “Kamu kenapa baik-baik sajakan disana? Gimana liburanmu
menyenangkan? Sepupumu Silvia juga baik-baik aja kan?” Tanya ibu Sica. “Iya mah
disini menyenangkan dan Silvia juga baik-baik kok” bohong Sica. “Oh ya sudah
mamah ga mau ganggu liburanmu selamat bersenang-senang sayang” tutup ibunya.
“Cih sangat menyenangkan?” Sica membanting telfon.
Sica
bosan didalam kamar berdiam diri dan memutuskan untuk pergi berjalan-jalan di
sekitar villa. Seorang penggemis dilihatnya hatinya merasa tersentuh
beruntungnya ia memiliki orang tua yang berkecukupan. Sica membuka dompetnya
dan memberikan uang kepada anak pengemis itu. “Terima kasih mba, semoga
kebaikan mba dibalas oleh Tuhan” kata pengemis itu. “Sama-sama bu, bukannya
kita sesame manusia harus saling bantu membantu” Sica tersenyum tulus senyum
yang akhir-akhir ini jarang diperlihatkannya.
Sica
berjalan ke sebuah supermarket dan membeli kebutuhan rasanya belum pernah ia
tidak makan malam bersama Steven dan Silvia. Lagipula Sica sudah tidak
mempersalahkan Silvia ataupun Steven lagi. Ia sudah tak peduli dan ingin mengubur
dalam-dalam kenangan pahit yang ia alami. Pulang dari Supermarket terdekat Sica
masuk villa dengan suara takut ketahuan steven maupun Silvia bahwa ia membawa
banyak barang belanjaan. Sica masuk ke dalam dapur dan menemukan selembar
kertas bertuliskan “Maaf aku pergi tanpa bilang-bilang. Silvia dan aku ada
keperluan di luar bias jadi sangat lama. Jaga dirimu. Steven.” Sica tersenyum
dan mulai dengan rencananya yaitu berbaikan kepada mereka berdua Silvia dan
Steven.
Steven
membuka pintu villa. Sepi dan gelap, “dimana Sica?” bingung Steven. Silvia
hanya mengelengkn kepala “Mungkin dikamar.” Tiba-tiba lampu menyala. Sica
memamerkan senyum sumringahnya kepada Steven dan Silvia. “Ehm.. kalian sudah
pulang? Sebenarnya ada yang mau aku omongin.”
Silvia dan Steven bingung. “Ee itu” Sica menggaruk kepalanya yang tidak
gatal “Maafin aku ya, aku tahu aku uda banyak salah sama kalian berdua Sering
jutek, dingin, ga baik sama kalian. Makanya aku mau minta maaf dan sebagai
tanda perminta maafanku aku membuatkan makan malam untuk kita bertiga.” Steven
dan Silvia terkejut bukan main. Perubahan sikap Sica itu yang membuat mereka
terkejut. “Maafin aku juga ya Sica” Silvia terharu dan memeluk Sica. Sica hanya
mengangguk.
Makan
malam itu sungguh terasa berbeda. Akhirnya Sica,Silvia, dan Steven bisa
menghabiskan waktu bersama dengan akrab. Saat Sica dan Silvia bercanda sendiri
dan tidak menganggap steven “Ehm Sica ada yang aku omongin” Steven angkat
suara. Silvia yang mengerti tentang apa yang mau dibicarakan Steven langsung
pergi. Sica bingung ada apa. Steven langsung mengajak Sica ke taman belakang
villa.
“Ada apa sih Stev kita disini
kenapa ga disana tadi saja?” Tanya Sica penasaran. “Ehm aku.. aku…” gugup
Steven. “Aku mau bilang yang sebenarnya. Silvia sama aku itu…” Sica memotong
omongan Steven “Aku udah tau kali, kalian pacarankan? Selamat ya aku tahu koq
kalo Silvia itu suka banget sama kamu sampai-sampai majang fotomu dikamarnya.
Lagian ga usah merasa gak enak sama aku aku ngerestuin kalian berdua koq dan…”
tiba-tiba Steven memeluk Sica. “Aku cinta kamu Jessica” ucap Steven di depan
telinga Sica. “Aku suka sama kamu Sica aku sama Silvia ga ada apa-apa” jelas
Steven yang membuat jantung sica hampir mencolot karna ia bisa mendengarkan
detak jantung Steven yang berdetak sama cepatnya dengan miliknya. “Stev?” ucap
Sica dengan lirih. Steven meneluarkan kalung dari sakunya. “Happy birthday my
Jessie” Sica benar-benar terkejut. Steven mengalungkan kalung berliontin huruf
S yang cantik itu “Aku seharian pergi untuk mencari itu. Kamu telihat sangat
cantik dengan kalung itu” pipi Sica sekarang sudah semerah kepiting rebus.
“Jessie maukah kau menjadi kekasihku dan menjadi pendamping hidupku kelak?”
Sica tidak bergeming. “Tak perlu kau jawab. Aku tahu jawabanmu pasti ya” Steven
mencium kening Sica. Malam itu malam yang paling indah buat mereka berdua.
Silvia hanya metap mereka dari kejauhan dan tersenyum “Terima kasih Tuhan telah
menyatukan mereka berdua.”
~Selesai~







0 komentar:
Posting Komentar